Berbaik Sangka

img

Bagaimana mau bersangka baik dengan Allah?

Bila ujian bertimpa-timpa, apakah hati masih mampu bersangka baik denganNya.

Apa kah bibir masih mampu mengukir senyuman,

Apakah air mata masih bisa tertahan,

Allah, Allah terlalu banyak persoalan dan jawaban hanya itu hanya ada pada hati kamu,

Terpanggil untuk bercerita, bercerita tentang bersangka baik. Sangka pada Allah. Sungguh saya bukan lah manusia tanpa, malah saya lah pendosa tanpa noktah.

Namun Allah membentuk saya dengan tarbiah kasih sayangnya.

Jujur, bila mana satu-satu ujian hadir, bohong jika dikata hati tidak bertanya mengapa? Kenapa?

Namun, bila ia selalu hadir, saya belajar dengan sendirinya, belajar untuk lihat segalanya dalam prespektif lebih luas. Jika mau dibilang air mata entah berapa liter lah perkiraanNya.

Kadang-kadang nak tarbiah hati orang jauh lebih mudah berbanding nak tarbiah hati sendiri.

Melalui hari ke hari saat saya yakin saya kuat untuk menghadapinya datang lagi dugaan, dimana diuji pula keyakinan pada ilahi.

 Akhirnya tarbiah Allah itu menjadi.

Akhirnya saya mampu didik hati untuk tidak lagi bersangka pada ilahi, bila prasangka tu hadir cepat bisik, sangka-sangka buka pintu untuk syaitan memulakan operasinya.

Istighfarlah jawabannya.

Bila terdengar bisik-bisik suara, “kau tak rasa apa yang aku rasa”

Ya, itu kebesaran Allah, DIA boleh buat macam ujian yang menyebabkan ujian kamu dan saya tak sama.

Tapi apakah kita tengok orang punya ujian, betul ke ujian kamu tu la berat. Paling berat.

Maaf, lemparkan pandangan anda keluar sana. Di Asia barat. Ujian mereka tak setanding ujian kamu. Coba cari jangan penat menacari hikmah.

Kamu akan jumpa andai kamu cari percaya. Jangan hanya tahu mengeluh.

Jika diikutkan dosa saya ni, saya tak layak pun dapat nikmat-nikmat Allah ni, tapi kasih sayang tak berkurang walau sedikit,  jadi apakah layak kita sebagai hamba nak bersangka buruk lagi pada Allah, ajar hati tu. Jangan manja sangat hati.

Apakah kamu rasa yang “nikmat” yang kamu nak itu, akan dekatkan kamu pada Allah , kamu sendiri sendiri tak mampu jamin kan. Gulp! Sentap!

Teringat kata seorang ustaz, Apa yang Allah bagi kata kita dah cukup untuk kita, sebab kalau dia bagi lebih, mungkin kita takda kat sini.

 Kisah:

Pada zaman Rasulullah, ada seorang sahabat yang sangat miskin, tapi dia selalu solat berjemaah dengan rasulullah tapi  selepas solat dia tergesa-gesa pulang kerumah.

Lalu Rasulullah bertanya mengapa kamu begitu tergesa-gesa.

Lalu sahabat menjawab, Ya Rasulullah aku sangat miskin, aku berkongsi pakaian solat ini dengan isteriku, dan rumah ku jauh, jika terlambat pulang , isteriku pasti terlepas waktu solat.

Ya Rasulullah , mohon lah pada Allah untuk menjadikan aku kaya, agar akau dapat meluangkan masa untuk mendengar kuliahmu,

Lalu Rasulullah berdoa pada Allah.

Dan akhirnya sahabat itu , menjadi senang. Namun dia semakin sibuk dengan urusan , sama juga semakin tiada masa untuk berjemaah dengan Rasulullah di masjid.

Nah, ambil ibrah dari kisah diatas, maaf jika ada kekurangan saya berkongsi dari ustaz yang meyampai kuliah maghrib. Ingat apa yang kita ada itu sudah cukup.

 Mungkin kamu diuji, tapi ia membawa kamu semakin dekat denganNya, itu juga kasih sayang. Buka mata hati, Allah sangat baik dengan kita, pandang setiap yang terjadi dengan mata hati agar hati masih bisa bersangka baik denganNya.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

[al-Hadid, 57:22]

Sumber : akuislam.com